Mengunjungi eksotisme Pantai-pantai di Kabupaten Gunungkidul

IMG-1082 Edit

Gunungkidul merupakan kabupaten paling timur di Yogyakarta. Sebagian besar wilayah pesisirnya merupakan bentang lahan berbatu kapur. Bentang lahan jenis ini menurut ilmu geologi, merupakan terumbu karang yang terangkat ke permukaan karena proses tumbukan antar lempeng-lempeng kulit bumi. Batuanyang berbahan dasar mineral kalsium karbonat, batuan ini mudah tererosi secara kimia oleh zat asam yang terkandung dalam air hujan. Proses pelarutan ini di sebut karstifikasi. Dampak dari pelarutan ini, terbentuk perbukitan kapur yang eksotis. Bentang lahan semacam ini biasa disebut “bentang lahan karst atau kawasan karst”  Pantai-pantai di kawasan karst juga berbeda dengan pantai-pantai di kawasan lain. Pantai bisa berupa pantai landai dengan pasir putih, namun juga bisa berupa tebing curam dengan ketinggian yang bisa mencapai puluhan meter. Masing-masing pantai menyuguhkan pemandangan yang eksotis dan daya tarik yang berbeda-beda. Pesisir Gunungkidul membentang dari barat, mulai sebelah timur pantai Parangtritis di Kabupaten Bantul, ketimur berbatasan dengan Kabupaten Wonogiri Propinsi Jawa tengah. Okey sekarang waktunya De Ojeg meluncur ke lokasi. Berbekal bahan bakar penuh dan perlengkapan secukupnya dari pusat kota Jogja kita meluncur dulu kearah timur menuju kabupaten Gunungkidul. Setelah kurang lebih dua jam ngegas motor melahap jalan dengang fareasi tikungan tanjakan dan turunan khas jalan pegunungan tibalah kita di TKP (Taget Kita Plesiran) 😀

Pantai Sadeng

Lembah Bengawan Solo Purba bag atas

Lembah Bengawan Solo Purba bagian atas

Pantai sadeng adalah pantai tertimur yang akan kita kunjungi. Pantai ini merupakan pelabuhan nelayan. Perahu dan kapal berukuran kecil, bisa bersandar di pantai ini. Namun, sebelum mencapai Pantai  Sadeng, perjalanan akan melewati sebuah lembah memanjang, bernama Bengawan Solo Purba. Kenapa diberi nama demikian? Menurut ilmu geologi, pantai Sadeng dulunya terindikasi sebagai muara dari Bengawan Solo Purba. Teori ilmu kebumian yang ada menyatakan, tadinya Bengawan Solo bermuara di pantai selatan Pulau Jawa. Karena proses pergeseran lempeng benua, lempeng Indo-Australia menumbuk lempeng Benua Asia, menyebabkan pengankatan. Akhirnya, dengan hulu yang sama, aliran Bengawan Solo berbalik ke utara.rak yo aneh to. Aneh nyata dan unik. Ya itulah dinamisnya bumi yang kita tinggali ini yang kita anggap benda mati. Padahal bergerak dan berproses. Cek penampakannya ya boncenger

Bagaimana, menyerupai sebuah alur sungai yang sangat besarkan ?

Ok perjalanan kita lanjutkan, udah ga terlalu jauh lagi, skitar 10 menit tapi harus hati-hati karena trek yang akan kitalalui berupa turunan tajam dan tikungan dan sedikit seremnya lagi sebelah kiri jalan berupa jurang jurang.

Jreeengngngng………

akhirnya sampai juga di Pantai Sadeng. Lorot gas dan cari tempat parkir yang teduh di lanjutkan photo sesion dan ini hasilnya, pantai pelabuhan ikan dengan segala kesibukannya.

Eksotisme Pantai-pantai di Kabupaten Gunungkidul

Pelabuhan Nelayan Pantai Sadeng

IMG-1242

Ini Namanya Perahu 😀

IMG-1257 Edit

Kesibukan Nelayan

Saya sempat ngobrol-ngobrol sama nelayan, untuk kapal yang ukuran besar mereka bisa berlayar 1 sampai 2 minggu atau lebih dilautan. Sementara untuk perahu-perahu fiber mereka pergi pulang. Dan ternyata nelayan yang sandar di pelabuhan ini bukan hanya nelayan setempat, tetapi ada nelayan dari daerah lain bahkan ada yang dari Sulawesi yang sandar untuk menjual hasil tangkapannya. Oh ya, karena disini pelabuhan nelayan, jadi kalao hobi makan ikan bisa beli disini. Pastinya lebih murah asal pinter nawarnya :-D. Okey, karena udah cukup puas  saatnya melanjutkan perjalanan ke tujuan selanjut. Udah siap, helemnya dah di kunciiiii, eccekecekecekecekecek brummmmmm bruuuummmmm, ngeeeeennngggg

<!–nextpage–>

Pantai Ngungap

Tebing Tantai Ngugngap

Tebing Tantai Ngugngap

Lebih tepatnya bisa disebut Tebing Pantai Ngungap. Tebing curam stinggi  kurang lebih 50 meter menjadi titik temu antara daratan dan lautan. Areal kawasan yang tak terlalu luas ini, menjadi areal konservasi dengan berbagai macam tumbuhan dan binatang yang menghuninya. Namun tak banyak informasi yang bisa didapat tentang tempat ini selain dari sebuah papan nama yang menyatakan tempat ini sebagai lokasi konserfasi. Untuk memasuki kawasan konserfasi tidak bisa membawa masuk kendaraan karena terdapat semacam palang pintu yang menghalangi jalan. Mulai dari pintu masuk kita harus berjalan kaki sejauh kurang lebih 300 meter, jalan berbatu yang sudah sangat baik.

Jalan Menuju Lokasi

Jalan Menuju Lokasi

Saat mendekati kawasan terdapat papan larangan membawa kendaraan, melakukan aktifitas merumput, mencari kayu di area konserfasi serta memancing dan mencari udang disekitar rumah walet di dinding tebing itu. Ooooww ternyata ada sarang burung walet di bawah sana. Pantesan aja….. Selepas membaca papan pengumuman itu, 100 meter didepan sana, nampak sebuah pendopo dengan halaman berumput rapi bukan karena di pelihara namun alami begitu saja. Sepanjang jalan menuju pendopo terasa sejuk, karena dinaungi pepohonan besar.

Pendopo

Pendopo

Dalam imajinasiku seperti membentuk sebuah lorong. Pendopo nampak sangat tidak terawat dan rusak di beberapa tempat. Namun tempat ini sangat begitu asri, tenang dan damai. Seandainya ada semacam home stay tentu nyaman sekali menginap di tempat ini. Saat malam akan menjadi indah diiringi nyanyian deburan ombak yg menggelora, ditemani rembulan dan gemintang yang mengerling nakal. Tentu cocok sekali untuk honeymoon, Aaaaaaaaakkakakakakkkk………, otak kotorku nongol lagi Di seberang pendopo terdapat pagar yang jadi pengaman tepat di bibir tebing.

Huaaaaaaah… sungguh perasaan yang sangat luar biasa saat mata lepas jauh memandang tak terbatas. Garis horizon melengkung biru seluas mata memandang lautan. Aku tertegun dan merasa kecil. Hanya perasaan sangat nyaman dan syukur aku  bisa berada di tempat ini. Sesaat kemudian kulihat kesisi selatan pendopo. Nampak jalan setapak disela hutan pandan. Dengan penasaran aku menuju kesan. TErnyata di seberan ada semacam tanah rata yang tak terlalu luas. Dari sini pandangan ke arah timur benar-benar tak terhalangi. Nampak jajaran tebing pantai yang benar-benar eksotis membentang seolah memancang kakiku agar tak henyak dari tempat ini.

Tebing Pantai

Tebing Pantai

Sebenarnya berat mau pergi, cuma yah mau gimana lagi :-(. Setelah menghabiskan beberap batang rokok yang menjadi satu-satunya teman setia dan puas mengambil gambar terpaksa harus pergi dan lanjut menuju TKP baru, pantai eksotis berikutnya. Terasa hancur hatiku harus berpisah, meniggalkan dirimu Pantai Tebing Ngungapku. Huuu… hu…. hu… hu….

Pantai Wedi Ombo

Setelah meliuk-liuk melahap tikungan ekstream  jalanan aspal khas Gunungkidul sampailah kepantai berikut. Namanya Wedi ombo, dalam bahasa indonesia wedi berarti pasir dan ombo berarti luas, jadi secara harfiah berarti pasir yang luas. wakakakakakakakkkk bener “harfiah” ga sih. Dasar sok tahu deh …… Memang demikian adanya. Hamparan pasir putih agak kecoklatan sedikit membentang,  tak kurang dari 1 kilo meter. Kalaupun kurang, pasti sedikit sekali, karena malah bisa lebih Ahihihihiihihihii.

Sisi pinggir pantai dinaungi pepohonan, sehingga kalo kecapekan jalan-jalan atau bermain pasir atau bermain air bisa langsug ngadem. View pantai dengan jajaran perbukitan di sisi kiri dan bebatuan di tenga sana yang menyebabkan pecahnya hempasan ombak jadi suguhan utama. apa lagi saat matahari terbenam, pasti lebih molek. Karena kalau ga bingung pantai wedi ombo menghadap kebarat. Jadi tinggal tunggu sore, siapkan kamera dan berharap cuaca baik. Pasti langit kemerahan tercermin di bentang lautan dsn akan memjadi pemandangan yang wow wow wow, luar biasa.

Nilai eksotis dari pantai Wedi Ombo, disamping keindahan pemandangannya juga kandungan ilmiahnya. Disini kita bisa melihat batuan dasar dari batuan gamping. Sebenarnya Gamping merupakan terumbu karang yang menumpang pada batuan dasarnya yang kemudian terangkat ke permukaan karena tumbukan antar lempeng benua. Terbayangkan batuan kapur yang tingginya bisa ratusan bahkan ribuan meter diatas permukaan air laut tadinya berada di bawah muka air laut. Perlu diketahui, kabarnya sebagian pegunungan cartens di Pupua Sana merupakan batuan gamping. Sungguh mencengangkan kalau tempat itu tadinya terendam di lautan. Waaawwwww……….

Jiaaaaahh Puanas teriik. Rupanya dah tengah hari. Haus, perut juga juga mulai protes minta diisi ulang. Aku sempatin minunm segelas esteh seharga 2000 rupiah. Namun Aku berniat makannya nanti di pantai siung aja sekalian istirahat. Karena sebelumnya targetku mamang fokus ngambil gambar. And than, kita putuskan untuk melanjutkan perjalanan ke Pantai Siung. Bruuum brummm, dengan santai melaju kearah pantai siung.

Pantai Jogan

Setelah kurang lebih 15 menit perjalanan, aku mulai mendekati pantai siung. Namun pas sampai di pertigaan ke pantai Jogan terjadi perubahan rencan. Sebaiknya mampir dulu pantai ini. Dont worry be happy karena dekat aja dan masih satu komplek sama panyai siung.

Sebenarnya Pantai Jogan juga merupakan tebing pantai, namun ketinggiannya tidak terlalu, hanya sekitar 10-15 meter. Bukan seperti lagunya wak haji Roma irama, terlaluuuu heheheheheheee…. Uniknya di pantai ini dapat ditemui sebuaha air terjun yang juga di beri nama Jogan. Air terjun ini berhulu pada sebuah sungai bawah tanah yang keluar dari mulut gua. Air yang mengalir ( jaelah mask merayap 😀 ) langsung meluncur dan jatuh di pantai kecil yang ada di bawah sana. Dalam kondisi pasang pantai kecil itu terendam, menyisakan pemandangan buih putih deburan ombak yang sesekali mencapai bibir tebing karena besarnya hempasan gelombang. Suaranya menggetarkan dada saat berada di dekatnya tak ubahnya suara merdu gadis pujaan hati, Hi…. hi… hi…..

Pada bibir air terjun terbentuk ornamen semacam flowstone. Di berikan nama flowstone dikarenakan bentukannya menyerupai luapan air dari sebuah wadah air. Bentukan ini tercipta dari endapan batuan kapur yang tadinya terlarutkan oleh air yang mengandung asam. Setelah larutan itu jenuh akhirnya akan mengendap. Pada bagian atas air terjun Jogan, terdapat semacam tanah lapang kecil pada bagian tepi sungainya. Yah cukup untuk sekedar bersantai-santai menikmati pemandangan yang elok ini. Ha.. ha…. Seandainya membawa tenda tentu asik sekali bermalam di tempat ini. Setelah malamnya ngalor ngidul ngobrol dan akhirnya tertidur pulas, keesokan harinya bisa langsung nyemplung ke kali untuk membersihkan diri dan menyegarkan badan, sambil di suguhi pemandangan lepas pantai selatan yang bagai tak berbatas. He… he…. he…. Sebuah cara yang mudah dan efektiuf untuk menyegarkan badan dan pikiran. Di area komplek tebing Pantai Jogan ini dipenuhi dengan tanaman pandan membentuk semacam hutan pandan. Terdapat eberapa jalan setapak yang biasanya dipakai penduduk setempat untuk pergi ke ladang serta tempat-tempat strategis untuk memancing atau mencari lobster dengan cara ngrendet.  Ngrendet adalah teknik mencari lobster dengan cara memasang jebakan terbuat dari jaring yang dirangkaikan pada lingkaran terbuat dari besi. Diameter lingkarang kurang lebih 50cm, setelah terpasang umpan anggap jalur lobster mencari makan. Untuk lokasi di bawah tebing dipasangi tali untuk menjaga agar tak hanyut dan juga digunakan untu mengangkat jebakan itu sendiri. Siapa yang menciptakan alat ini pertama kali ya? Ha… ha.. ha… yang pasti bukan sayalah, Hii… hi…. hi…. hi…. Sudah tak usah dipikirin, daripada rambut rontok nanti, mending kita lanjutken perjalanan ke pantai berikutnya yaitu pantai siung. Lagian perut juga semakin garang dalam berdemo karena minta segera diisi.

Pantai Siung

Pantai siungdikalangan penggiat alam bebas lebih dikenal dengan tebingnya.  Tebing-tebingnya biasa digunakan untuk kegiatan panjat tebing alam. Bahkan pernah diadakan acara Asian Climbing Gathering di tempat ini. Namun pemandangan pantainya pun tak kalah menarik untuk dinikmati. Pantai yang terbentuk dalam teluk ini masih alami. Oleh karena tergolong cukup terkenal, sudah banyak wisatawan lokal maupun mancanegara yang berkunjung.

Belum banyak fasilitas di bangun di tempat ini. Namun setidaknya sudah dibangun halaman parkir  yang cukup luas, warung-warung dan fasilitas seperti mushola serta toilet. Di sisi sebelah timur merupakan perumahan bagi nelayan. beberapa kepala keluarga tinggal di tempat ini. Saat musim ikan kita bisa membeli langsung ikan dari nelayan yang bersandar.

Yak Sekarang waktunya makan. Berhubung kebetulan sedang musim ombak tak banyak pilihan menu ikan bisa dinikmati. Denan merogoh Uanga kurang dari Rp. 10000 , sudah bisa makan kenyang dan menikmati segelas esteh manis. Setelah istirahat sejenak, waktunya poto-poto. Di sebelah barat pantai siung terdapat bukit yang cukup tinggi, Dari bukit ini kita bisa melihat secara utuh pantai siung. Saat memandang kearah timur tatapan akan  terbentur pada perbukitan tinggi yang begitu anggun. Jadi dari tempat ini kita bisa tahu kalao sebenarnya pantai siung merupakan ujung dari sebuah lembah. Pada saat-saat tertentu dapat dijumpai gerombolan kera ekor panjang, bermain-main pada tebing-tebing yang banyak terdapat di pantai siung.

Makan sudah, ambil gambar sudah Okeyh…… Waktunya lanjutkan perjalanan ke pantai berikutnya

Pantai Nglambor

Kebetulan beberapa saat yang lalu aku mengunjungi pantai siung. Waktu itu aku mendapat informasi, kalau ada pantai baru. Jalan menuju kesanapun baru saja di bangun, masih berupa susunan batu. Membuat penasaran saja Ahaa… Waktunya bersenang-senang Setelah beberapa saat keluar dari area pantai suing , begitu keluar dari jalan aspal, langsung ku pelintir gas, Waktunya olah raga Tanjakan dan turunan jalan dengan susunan batu, menantang untuk dicumbui. Jalan baru itu sepi dari petani yang biasa melaluinya. Aku bebas memacu. Roda menggilas lubang sesekali melejit, shock absorber bekerja keras meredam hentakan. Heehhhh,… Memicu adrenalin, apalagi ketika sampai di puncak tanjakan langsung turunan cukup tajam Waaww Pemandangan yang luar biasa,di depan sana pantai dengan pulau kecil di tengahnya. Sulit untuk mendiskripsikan keindahannya. Segera ku keluarkan kamera dan mencuri keindahan itu. Sangat tidak rugi sampai di tempat ini. Di belakang dua buah gubung yang berdiri di lembah dan punggung bukit juga ikut mencuri perhatian Gubung-gubug ini biasa di gunakan petani untuk beristirahat. berbagai peralatan masakpun biasanya ada. Petani setempat seharian berada di ladang, dari pagi sampai petang. Sehingga siang hari kadang mereka masak atau sekedar merebus air untuk membuat teh panas. Hedewh…!!!! Terbayang kenikmatan menyeruput teh tawar panas yang khas rasanya. Apalagi sambil melihat kearah panatai. Serasa komplit sudah hidup…… Wakakakakakakakkkkkkk Namun sayang semua itu hanya lamunan, namun hampir  seperti nyata dalam imajinasiku sambil enik mati keindahan pantai Nglabor. He.. he.. he…. Belum puas, namun hari sudah beranjak sore, next dan next. Harus menuju pantai berikutnya.

Pantai Timang

Pantai ini tidak begitu jauh dari pantai nglambor, kurag lebih 15 menit perjalanan. Berbeda dengan kunjungan pertamaku. Kondisi jalannya sudah jauh lebih baik. Terdapat pantai kecil disini, aku ingat saat pertama kali kesini pagi-pagi sekali. Matahari sudah agak meninggi tetapi masih kemerahan. Tebing disisi timur menjadi siluet karena laut menjadi kuning keemasan menyilaukan. Pemandangan menakjubkan Namun yang membuat tempat ini menjadi lebih eksotis, terdapat sebuah kereta gantung manual, yang biasa disebut gondola. gondola digunakan para pemancing untuk mencapai sebuah pulau kecil di tengah laut yang berjarak sekitar kurang dari 100 meter. Wuih serem, apa lagi deburan ombak di bwah sana begitu dahsyat. Keranjang kereta terbuat dari kayu dengan roler-roler dari logam pada empat titik. Roler-roler itu akan meluncur pada tali plastik berukuran besar, mengantarkan  gondola dengan penumpangnya. waktu sudah semakin sore, tak terasa jam menunjukkan hampir jam 17.00. Target untuk menelusuri seluruh pantai gagal. Aku salah perhitungan rupanya. Ternyata tak cukup satu hari untuk mengunjungi semua pantai di Gunungkidul. Akhirnya kuputuskan untuk menunggu matahari terbenam di pantai timang berteman dengan kesendirianku. Setelah menjamak sholat dhuhur dan asar aku mempersiapkan kamera. namun ternyata harus berhemat. batre mulai low. Beberapa menit namun waktu berjalan lamban. mendungpun mulai mengusik harapan untuk mendapatkan sunset terbaikku. Huft… Tak apalah Itulah alam. Kita boleh berharap, namun kekuatannya hanya bisa kita ajak kompromi bukan untuk kita tandingi. Matahari semakin turun di ufuk barat. Langit kemerahan refleksi mentari senja walau lebih sering bersembunyi dibalik awan. Tak aku sia-siakan untuk merekam setiap momen itu, apapun hasilnya. Hanya kepasrahan atas kemurahan-Nya dalam pikiranku, bersama kesendirian dantara karunia gemuruh deburan ombak dan langit yang merah merona, yang tetap terasa indah walau berhias awan hitam. Seraya berdoa jangan cepat engkau kembali keparaduan. Karana kegelapan malam akan segera menggantikan rona merah indahmu. Namun takdirmu perputaran waktu, tak mungkin kau mengabulkan rengekku itu. Karena esok pagi kau harus kembali, menciptakan keindahan-keindahan lain unuk makhluk-makhluk yang lain. Bulkan hanya aku dengan keegoisanku. Huft… malam segera hinggap. aku harus kembali meninggalkan tempat ini. masih banyak pantai-pantai lain dilain hari yang harus kusambanngi. Masih ada Sundak, Sepanjang, Kukup, Krakal, Drini, Baron, Ngrenehan, Ngobaran yang belum sempat aku datangi kali ini. Next time lah aku selesaikan project pantai-pantai ini.

Dipublikasi di Touring De Ojeg | Tag , | Meninggalkan komentar